Haijatim.com, Jakarta – Belum hilang ingatan kontroversi impor pick-up dan truk dari India untuk Koperasi Desa Merah Putih, kini muncul lagi yang tak kalah seru. Yaitu kemunculan pengadaan motor listrik Emmo JVX GT berlogo Badan Gizi Nasional (BGN) untuk keperluan program MBG (Makan Bergizi Gratis).
Wujudnya yang viral di media sosial hingga disebutkan sejumlah 70 ribu unit sontak sukses mengundang polemik anggaran. Motor yang jarang dan tak pernah wira-wiri di jalanan Indonesia itu tiba-tiba populer dan ternyata bernama Emmo JVX GT.
Spesifikasi dan Identitas Motor
Berdasarkan data dari sistem katalog elektronik (e-katalog) LKPP, motor listrik yang akan digunakan adalah merek Emmo, tipe JVX GT. Kendaraan ini merupakan hasil produksi dalam negeri melalui PT Yasa Artha Trimanunggal yang berbasis di DKI Jakarta, dengan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) mencapai 48,5 persen.
Dari sisi performa, Emmo JVX GT dirancang sebagai motor adventure yang tangguh untuk segala medan. Berikut adalah spesifikasi teknis utamanya:
– Power: Ditenagai motor listrik 7.000 Watt dengan kecepatan maksimal 85 km/jam.
– Baterai: Kapasitas 72V 31Ah, mendukung sistem dua baterai yang dapat dilepas-pasang.
– Jarak Tempuh: Mampu menempuh jarak 70 km dalam kondisi standar, atau hingga 140 km jika menggunakan dua baterai.
– Fitur Unggulan: Mendukung fast charging (30% ke 80% dalam 1 jam) serta dilengkapi sistem pengereman cakram ganda dengan teknologi CBS.
– Dimensi: Memiliki ground clearance tinggi, yakni 320 mm, dengan ban dual purpose ukuran 19 inci di depan dan 18 inci di belakang, membuatnya ideal untuk menjangkau wilayah pelosok.
Mengenai harga, di laman Inaproc tertulis angka Rp49,95 juta (termasuk PPN 12%, status off the road), sementara di situs resmi Emmo dibanderol sekitar Rp56,8 juta. Angka ini sempat menjadi sorotan publik karena nilainya dianggap setara dengan harga mobil keluarga bekas yang masih layak jalan. Penggunaan motor BGN MBG ini dikhususkan bagi Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia.
Kontroversi dan Sorotan Anggaran
Kehadiran unit kendaraan dalam jumlah besar ini memicu polemik antara kementerian dan lembaga. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pengajuan anggaran untuk motor tersebut sebenarnya sempat ditolak tahun lalu karena pemerintah ingin memprioritaskan anggaran langsung pada pemberian makanan.
“Setahu saya, pengajuan itu ditolak tahun lalu. Fokus kami adalah bagaimana dana tersebut sampai ke piring anak-anak… bukan untuk belanja kendaraan yang sifatnya pendukung operasional,” tegas Purbaya.
Ia pun berencana melakukan pengecekan ulang terkait kemungkinan adanya perubahan pada anggaran 2026.
Di sisi lain, Kepala BGN Dadan Hindayana mengklarifikasi bahwa pengadaan ini adalah bagian dari perencanaan anggaran tahun 2025. Ia merinci bahwa total realisasi pesanan mencapai 21.801 unit dari target awal 25.000 unit, bukan 70.000 unit seperti informasi yang viral di media sosial.
Persoalan ini juga menarik perhatian legislatif. Wakil Ketua Komisi IX DPR, Charles Honoris, menyatakan rencana untuk memanggil BGN guna meminta penjelasan transparan terkait tata kelola anggaran ini. Menurutnya, program gizi seharusnya tidak berubah menjadi ajang bagi-bagi proyek di tengah tekanan fiskal negara.
Hingga saat ini, ribuan unit motor BGN MBG tersebut dilaporkan belum didistribusikan karena masih dalam proses administrasi sebagai Barang Milik Negara (BMN). Masyarakat kini menanti transparansi lebih lanjut agar program MBG tetap tepat sasaran dan efisien bagi pemenuhan gizi nasional. (ton)







