Navigasi Baru MSDM: Menghadapi Badai Quiet Quitting dan Krisis Kesejahteraan Mental di Era Pasca-Pandemi

Pendahuluan: Pergeseran Paradigma Dunia Kerja

Haijatim.com, Surabaya – Dunia kerja global tengah mengalami transformasi tektonik. Jika satu dekade lalu fokus utama Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) adalah pada efisiensi proses dan mekanisasi kinerja, hari ini fokus tersebut bergeser tajam ke arah kemanusiaan (human-centric). Munculnya istilah-istilah seperti The Great Resignation yang diikuti oleh fenomena Quiet Quitting (bekerja secukupnya) menandakan adanya ketidakpuasan mendalam yang terpendam di kalangan tenaga kerja modern

1. Fenomena Quiet Quitting: Protes Diam dalam Bekerja

Quiet quitting bukanlah berarti karyawan berhenti dari pekerjaannya, melainkan mereka berhenti melakukan upaya lebih (extra mile). Mereka menolak budaya “hustle” yang memuja kerja lembur tanpa kompensasi yang jelas.

Penyebab Utama: Ketidaksesuaian antara beban kerja dengan kompensasi, kurangnya apresiasi, dan batasan yang kabur antara kehidupan pribadi dan profesional.

Dampak bagi Organisasi: Penurunan inovasi, produktivitas yang stagnan, dan melemahnya budaya kolaboratif.

Manajer SDM kini ditantang untuk tidak sekadar memantau Key Performance Indicators (KPI), tetapi juga memahami “suasana batin” karyawan melalui Employee Engagement Survey yang lebih empatik.

2. Dilema Kerja Hybrid: Antara Fleksibilitas dan Isolasi

Kebijakan Work From Home (WFH) yang bertransformasi menjadi Hybrid Workmembawa dua sisi mata uang. Di satu sisi, karyawan menikmati otonomi dan penghematan waktu komuter. Di sisi lain, muncul tantangan baru berupa:

Erosi Budaya Perusahaan: Sulit membangun rasa memiliki (sense of belonging) ketika interaksi fisik terbatas.

Kelelahan Digital (Zoom Fatigue): Rapat virtual yang beruntun meningkatkan tingkat stres secara signifikan.

Ketidakadilan Persepsi: Karyawan yang harus hadir di kantor sering kali merasa diperlakukan berbeda dengan rekan mereka yang bekerja remote.

3. Urgensi Kesehatan Mental sebagai Prioritas Strategis

Kesehatan mental bukan lagi sekadar isu medis, melainkan isu produktivitas. Berdasarkan data global, tingkat stres kerja mencapai titik tertinggi dalam sejarah. Burnout kini diakui oleh WHO sebagai fenomena pekerjaan yang serius.

Organisasi yang progresif mulai menerapkan:

Mental Health Days: Cuti khusus untuk pemulihan psikologis.

Employee Assistance Programs (EAP): Layanan konseling profesional yang didanai perusahaan.

Leadership Training: Melatih manajer untuk memiliki kecerdasan emosional agar tidak menjadi sumber stres bagi bawahannya.

4. Peran Teknologi dan AI dalam Personalisasi SDM

Kecerdasan Buatan (AI) kini merambah ke manajemen bakat. AI tidak hanya digunakan untuk rekrutmen, tetapi juga untuk:

Analitik Prediktif: Mengidentifikasi karyawan yang memiliki risiko tinggi untuk resign sebelum hal itu terjadi.

Hyper-Personalized Learning: Menyusun jalur pengembangan karir yang unik bagi setiap individu berdasarkan minat dan kompetensi mereka.

Namun, ketergantungan pada AI juga membawa risiko etika dan privasi yang harus dikelola dengan bijak oleh praktisi SDM.

5. Kesimpulan: Menuju Kontrak Sosial Baru

Masa depan MSDM terletak pada kemampuan organisasi untuk menciptakan “kontrak sosial” baru dengan karyawannya. Pekerjaan bukan lagi sekadar pertukaran waktu dengan uang, melainkan pencarian makna dan kesejahteraan. Perusahaan yang gagal beradaptasi dengan tuntutan kesehatan mental dan fleksibilitas akan kehilangan talenta terbaik mereka.

Pemimpin SDM harus berubah peran dari “polisi administrasi” menjadi “arsitek pengalaman manusia”. Keberhasilan perusahaan di masa depan tidak lagi hanya diukur dari neraca keuangan, tetapi dari seberapa sehat dan bahagia orang-orang yang bekerja di dalamnya.

Daftar Pustaka

Buku:

Armstrong, M., & Taylor, S. (2023). Armstrong’s Handbook of Human Resource Management Practice. Kogan Page Publishers.

Deszler, G. (2020). Human Resource Management (16th ed.). Pearson.

Sinek, S. (2019). The Infinite Game. Portfolio Penguin. (Membahas mengenai budaya organisasi jangka panjang).

Jurnal Ilmiah:

Bakker, A. B., & Demerouti, E. (2017). “Job Demands–Resources Theory: Taking Stock and Looking Forward”. Journal of Occupational Health Psychology.

Gratton, L. (2021). “Four Principles to Ensure Hybrid Work is Productive”. MIT Sloan Management Review.

Laporan & Artikel Berita:

Gallup. (2023). State of the Global Workplace: 2023 Report.

World Health Organization (WHO). (2022). Mental Health at Work.

Harvard Business Review. (2022). “The Quiet Quitting Phenomenon: What Managers Need to Know”

Penulis Dr. Rismawati.,SE.,MM.,CPS., CMT adalah Dosen Tetap STIESIA Surabaya. Aktif menulis buku serta publikasi jurnal ilmiah baik nasional dan internasional. Selain daripada itu saat ini membuka usaha yang bergerak dalam bidang F&B dan Travel Tour Wisata, Umrah dan Haji. Selain daripada itu penulis ingin menunjukkan bahwa menjadi seorang pengajar atau dosen bukan suatu hal penghalang untuk lebih berkarya dan bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi lingkungan internal agar dapat membantu mensejahterakan rekan di sekelilingnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *