Pewarta Foto Indonesia (PFI) Surabaya Doa Bersama 5 Jurnalis yang Hilang

Liputan Aktifitas Anak Krakatau

NEWS147 views

Haijatim.com, Surabaya – Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kota Surabaya menggelar doa bersama untuk lima jurnalis yang hilang ketika melakukan liputan aktifitas Anak Krakatau. Duka mendalam dan rasa kehilangan menyelimuti insan pers tanah air.

Tercatat para jurnalis bersama tiga kru kapal hilang di perairan Selat Sunda. Mereka hilang saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau pada Senin (7/9/2026).

Hingga kini, proses pencarian korban masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan. Musibah ini meninggalkan kecemasan mendalam bagi pihak keluarga dan rekan sejawat.

Aksi Kepedulian
Menanggapi musibah ini, solidaritas pers di Jawa Timur bergerak bersama. Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kota Surabaya menggelar aksi kepedulian. Kegiatan tersebut berlangsung di depan Taman Apsari, Surabaya, Jumat (11/9/2026).

Fokuskan pada rasa hilang yang mendalam atas musibah yang terjadi pada jurnalis hilang PFI Surabaya Gelar Doa Bersama sebagai bentuk harapan. Acara ini digagas bersama IJTI Surabaya dan rekan wartawan lainnya.

Doa dipimpin oleh Humas Yayasan Dana Sosial Al Falah, Khoirul Anam. Seluruh peserta memanjatkan doa demi keselamatan para korban.

Ketua PFI Kota Surabaya, Suryanto, menegaskan fokus utama dari kegiatan ini. Ini adalah wujud dukungan moral untuk korban dan keluarga.

“Ini sebenarnya bukan aksi, tapi ini adalah doa bersama. Harapan kami mereka bisa segera ditemukan dengan selamat,” ujar Suryanto.

Lilin Simbol Pencerahan
Para wartawan juga menyalakan lilin di lokasi acara. Nyala lilin menjadi simbol pencerahan dan harapan yang tak padam.

“Simbol lilin adalah harapan kami semua. Agar rekan kami bisa segera ditemukan,” tambah Suryanto.

Lima jurnalis yang hilang adalah M. Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, dan Yudistiro Pranoto. Selain itu ada Firman Daus serta Donal Husni. PFI Nasional terus berkoordinasi dengan tim SAR dan pihak keluarga. Komunikasi intensif juga dilakukan dengan tempat media korban bekerja.

Peristiwa tragis ini menjadi pengingat pentingnya mitigasi risiko liputan. Wilayah berbahaya seperti gunung berapi menuntut kewaspadaan tinggi.

Suryanto mengingatkan jurnalis agar selalu memperhitungkan keselamatan diri di lapangan. Faktor alam sering kali menyimpan bahaya tak terduga.

“Sebagai jurnalis kita harus mendekat, tetapi tetap ada batasnya. Mitigasi risiko itu memang harus dihitung,” tegas Suryanto.

PFI Surabaya berencana menggelar pelatihan keselamatan bencana bagi para jurnalis. Pembekalan khusus dari perusahaan media juga sangat penting sebelum penugasan risiko tinggi. (Amin Setyobudi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *