Lewat LinkUMKM dan QRIS BRI, Sulistyowati Pelaku UMKM di Sidoarjo Bawa Keripik Brownies OKBROW Naik Kelas

EKONOMI44 views

Haijatim.com, Sidoarjo – Membangun usaha tidak selalu harus dimulai dengan modal besar. Ketekunan membaca peluang, keberanian mencoba produk baru, dan kemauan untuk terus belajar justru menjadi modal penting bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk berkembang.

Prinsip itulah yang dijalankan Sulistyowati, pelaku usaha makanan ringan asal Krian, Kabupaten Sidoarjo. Berangkat dari usaha rumahan yang awalnya hanya memproduksi kue kering menjelang Lebaran, dia kini berhasil mengembangkan produk keripik brownies dengan merek OKBROW yang memiliki pasar hingga luar Jawa Timur.

Perjalanan usaha tersebut dimulai pada 2018. Sebelum mengenalkan OKBROW, Sulistyowati lebih dahulu menjalankan produksi kue kering yang penjualannya sangat bergantung pada momentum hari raya. Dari pengalaman itu, dia kemudian melihat peluang untuk mengembangkan produk makanan ringan yang bisa dipasarkan sepanjang tahun.

Kesempatan tersebut semakin terbuka ketika dirinya bergabung dengan komunitas UMIM pada 2018 dan mulai memproduksi keripik brownies. Produk yang menggabungkan cita rasa brownies dengan tekstur renyah itu kemudian menjadi andalan usahanya hingga sekarang.

“Awalnya sebelum membuat keripik brownies, kami memproduksi kue kering kalau menjelang momen Lebaran. Kemudian pada 2018 saya bergabung dengan UMIM dan mulai memproduksi keripik brownies,” ungkap Sulistyowati.

Keputusan mengembangkan keripik brownies menjadi titik penting perjalanan bisnisnya. OKBROW tidak sekadar menawarkan camilan dengan konsep berbeda, tetapi juga berusaha menjangkau konsumen yang lebih luas melalui harga terjangkau dan pilihan rasa yang beragam.

“Selain varian original, kami juga mengembangkan berbagai pilihan rasa dan topping, termasuk varian tempe. Inovasi tersebut menjadi salah satu daya tarik untuk mempertahankan minat konsumen sekaligus membuka peluang pasar baru,” paparnya.

Bagi Sulistyowati, menjaga daya saing produk bukan hanya soal menciptakan makanan yang enak, tetapi juga memastikan produk dapat diterima oleh berbagai segmen konsumen.

Namun, perjalanan OKBROW tidak selalu berjalan mulus. Seperti banyak pelaku UMKM lainnya, Sulistyowati menghadapi tantangan besar dalam pemasaran. Memiliki produk yang potensial ternyata belum cukup apabila belum diikuti kemampuan memperkenalkan produk kepada konsumen yang lebih luas.

Dia kemudian aktif mengikuti berbagai pelatihan, pameran, dan program pendampingan yang diselenggarakan instansi pemerintah maupun BUMN. Langkah ini menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan kapasitas usaha sekaligus memperluas jaringan pemasaran.

Di sisi lain, Sulistyowati juga mulai memperhatikan aspek legalitas dan standardisasi produk. Dia mengurus perizinan PIRT, sertifikasi halal, serta melakukan uji nutrisi sebagai upaya meningkatkan kepercayaan konsumen.

“Awalnya tantangan terbesar kami adalah pemasaran. Namun, dengan mengikuti pelatihan dan pameran yang diadakan dinas maupun BUMN, serta mengurus legalitas PIRT, halal, dan uji nutrisi, alhamdulillah produk kami akhirnya bisa masuk ke pusat oleh-oleh,” tuturnya.

Upaya tersebut membuahkan hasil. Pemasaran OKBROW kini tidak lagi terbatas pada penjualan langsung di sekitar tempat produksi yang berlokasi di Perum Puri Bagus B8 Nomor 21, Krian, Sidoarjo.

Produk keripik brownies tersebut telah dipasarkan melalui berbagai saluran, mulai dari penjualan offline, marketplace, kerja sama B2B, hingga keikutsertaan dalam sejumlah pameran dan event.

Jangkauan konsumennya juga semakin luas. Selain Sidoarjo dan Surabaya, produk OKBROW telah menjangkau Pasuruan, Mojokerto, bahkan Bali. Perluasan pasar ini menunjukkan bahwa produk makanan ringan dari usaha rumahan memiliki peluang untuk berkembang melampaui batas wilayah apabila didukung konsistensi kualitas dan strategi pemasaran yang tepat.

Lewat LinkUMKM dan QRIS BRI, Sulistyowati Pelaku UMKM di Sidoarjo Bawa Keripik Brownies OKBROW Naik Kelas
Bawa Keripik Brownies OKBROW Naik Kelas

Tumbuh Bersama, Beri Peluang Kerja bagi Perempuan
Keberhasilan Sulistyowati tidak hanya diukur dari perkembangan produk dan jangkauan pemasaran. Usaha yang dibangunnya sejak 2018 itu kini juga memberikan kesempatan kerja bagi empat orang tenaga kerja.

Dua orang terlibat dalam bagian produksi, sementara satu orang menangani administrasi dan satu lainnya bertugas di bagian pengiriman. Menariknya, dua pekerja di bagian produksi merupakan perempuan dengan status single parent.

Di tengah keterbatasan skala usaha, Sulistyowati berupaya menjaga agar aktivitas produksi dan pemasaran dapat berjalan beriringan. Sebab, semakin luas pasar yang dijangkau, semakin besar pula kebutuhan terhadap kapasitas produksi dan pengelolaan operasional yang lebih baik.

Menariknya, hingga saat ini pengembangan usaha masih mengandalkan modal sendiri. Sulistyowati memilih mengoptimalkan kemampuan keuangan internal sembari terus memperkuat fondasi bisnis.

Membidik Pasar Lebih Luas dengan Modernisasi Produksi
Meski telah menjangkau sejumlah daerah, Sulistyowati menyadari perjalanan OKBROW masih memiliki ruang besar untuk berkembang. Tantangan pemasaran tetap menjadi pekerjaan rumah, terutama untuk memperluas jaringan distribusi dan memperkuat pengenalan merek di pasar yang lebih kompetitif.

Selain pemasaran, peningkatan kapasitas produksi juga menjadi prioritas berikutnya. Dia berharap dapat melengkapi peralatan produksi, khususnya memiliki mesin oven berkapasitas besar dan otomatis.

Investasi peralatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi, mempercepat proses produksi, serta menjaga konsistensi kualitas produk ketika permintaan pasar semakin meningkat.

“Harapan saya ke depan bisa menambah jaringan pemasaran dan melengkapi peralatan produksi, terutama memiliki mesin oven dengan kapasitas besar dan sistem otomatis. Dengan begitu, usaha kami bisa berkembang lebih baik,” ungkapnya.

Lewat LinkUMKM dan QRIS BRI, Sulistyowati Pelaku UMKM di Sidoarjo Bawa Keripik Brownies OKBROW Naik Kelas
Beri peluang kerja bagi perempuan mandiri

LinkUMKM BRI Jadi Ruang Belajar dan Pengembangan Usaha
Dalam perjalanan mengembangkan bisnis, Sulistyowati juga memanfaatkan berbagai program pemberdayaan UMKM yang difasilitasi BRI, termasuk melalui Rumah BUMN dan program BRIncubator. Dari aktivitas tersebut, dia kemudian mengenal platform LinkUMKM BRI.

Baginya, keberadaan LinkUMKM menjadi peluang untuk memperoleh pengetahuan dan mengenali kondisi usaha secara lebih terarah. Meski baru bergabung, dia berharap platform tersebut dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan pengembangan bisnis sekaligus membuka akses terhadap berbagai pelatihan yang relevan.

“Saya mengenal LinkUMKM biasanya dari Rumah BUMN atau ketika mengikuti BRIncubator. Banyak pelatihan yang sangat bermanfaat bagi pelaku UMKM. Jika diaplikasikan dengan baik, pelatihan tersebut bisa memberikan dampak positif bagi perkembangan usaha,” jelasnya.

Sulistyowati berharap keikutsertaannya di LinkUMKM dapat memberikan perspektif baru dalam menentukan langkah pengembangan bisnis. Mulai dari peningkatan kapasitas produksi, penguatan pemasaran, hingga perluasan jaringan konsumen.

Dukungan digital lainnya juga dirasakan melalui penggunaan QRIS BRI. Fasilitas pembayaran digital tersebut dinilai mempermudah transaksi, baik dalam aktivitas penjualan sehari-hari maupun ketika mengikuti pameran dan event.

“QRIS BRI sangat membantu sekali dalam proses pembayaran setiap transaksi, baik untuk kegiatan sehari-hari maupun ketika kami mengikuti event-event tertentu,” katanya.

Pemanfaatan QRIS menjadi bagian dari adaptasi usaha terhadap perubahan perilaku konsumen yang semakin terbiasa menggunakan transaksi nontunai. Bagi UMKM, kemudahan pembayaran bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga dapat meningkatkan kenyamanan pelanggan dan mendukung kelancaran penjualan.

Pemimpin Cabang BRI Krian Dicky Advia Rahim mengatakan, BRI terus memperkuat ekosistem pemberdayaan untuk membantu UMKM memperoleh dukungan finansial, meningkatkan kemampuan usaha, serta memperluas akses pasar.

“BRI berkomitmen melakukan pemberdayaan UMKM secara menyeluruh melalui sinergi dukungan modal, penguatan modal sosial, dan transformasi digital sebagai solusi perluasan akses pasar,” ujarnya.

Menurut dia, pendekatan pemberdayaan tersebut menjadi bagian dari upaya mendampingi pelaku UMKM agar semakin tangguh, adaptif, dan mampu meningkatkan skala usahanya secara berkelanjutan.

Perjalanan Sulistyowati membangun OKBROW memperlihatkan bahwa keberhasilan UMKM tidak selalu ditentukan oleh besarnya modal awal. Kemampuan membaca peluang, keberanian berinovasi, konsistensi menjaga kualitas, serta kemauan memanfaatkan pelatihan dan jaringan pendampingan menjadi faktor penting untuk bertahan dan berkembang. (Dian Novianto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *