Pelajar Lampung Temukan Celah Serius di Sistem NASA

Dapat Apresiasi

Haijatim.com, Lampung – Seorang pelajar SMA asal Lampung kembali mengharumkan nama Indonesia di dunia keamanan siber. Riski Muhammad Ivan, siswa kelas XII di MAN 1 Bandar Lampung, berhasil menemukan celah keamanan penting pada salah satu situs resmi National Aeronautics and Space Administration (NASA). Usianya baru 17 tahun, namun kemampuannya menembus pertahanan siber lembaga antariksa terbesar di dunia membuat banyak pihak terkejut.

Riski mengaku melakukan penelusuran tersebut hanya bermodal laptop dan kecintaannya pada dunia coding. “Awalnya saya hanya ingin mengasah skill saya melalui platform Bugcrowd,” ujarnya.

Ia menyebut platform tersebut menjadi perantara yang mengadakan sayembara keamanan siber bagi para pemburu celah keamanan.

Bagaimana Celah Itu Ditemukan?
Riski mengikuti mekanisme sayembara yang membuka kesempatan bagi siapa pun untuk menemukan kerentanan sistem instansi atau perusahaan. “Karena ada apresiasi seperti itu saya mencoba,” katanya.

Selama satu bulan, ia menghimpun subdomain aktif milik NASA dan memeriksanya satu per satu. Ia lalu menemukan anomali pada fitur pencarian salah satu subdomain.

“Ketika saya memasukkan kata kunci confidential, ada situs yang tidak menerapkan filter,” jelasnya.

Dari celah kecil itu, muncul akses menuju dokumen rahasia yang seharusnya terlindungi sistem keamanan berlapis. Setelah memastikan validitas temuan, Riski segera melaporkannya melalui Bugcrowd.

“Ternyata ini masuk dalam kerentanan untuk level medium atau P3,” ungkapnya.

Mengapa Pembobolan Situs NASA Sangat Berbahaya?
Celah pada sistem NASA bukan sekadar isu teknis, melainkan ancaman besar bagi keamanan global. NASA mengelola data sensitif seperti riset teknologi roket, pemantauan satelit, komunikasi misi luar angkasa, hingga data ilmiah strategis.

Jika peretas berhasil memanfaatkan celah tersebut, dampaknya dapat sangat luas:
* Akses ke dokumen rahasia dapat membuka peluang sabotase misi antariksa.
* Manipulasi data satelit bisa mengganggu pemantauan cuaca atau sistem navigasi global.
* Pencurian teknologi strategis berpotensi mengancam keamanan nasional Amerika Serikat.
* Kebocoran data riset bisa merugikan industri teknologi dunia.

Dalam skenario ekstrem, peretasan dapat mengganggu komunikasi pesawat ruang angkasa. Gangguan sistem seperti ini dapat memicu kegagalan misi bernilai miliaran dolar.

Karena itu, setiap celah kecil dalam sistem NASA dianggap sangat riskan. Keamanan siber lembaga antariksa kelas dunia selalu menjadi sasaran peretas negara, kelompok kriminal, hingga oknum pencari keuntungan.

Penghargaan untuk Riski
Setelah melaporkan temuan penting itu, Riski menerima sertifikat penghargaan di bawah kategori Vulnerability Disclosure Program (VDP) melalui Bugcrowd. Penghargaan tersebut menegaskan kontribusinya dalam menjaga keamanan lembaga teknologi global.

Tak hanya NASA, Riski juga telah meraih sekitar 19 penghargaan dari berbagai instansi di Indonesia dalam bidang keamanan siber. “Kalau di Lampung juga pernah untuk situs resmi Pemerintah Provinsi Lampung,” ujarnya.

Ia berharap portofolio ini dapat membantunya bekerja di perusahaan IT dan kampus yang ia impikan. Prestasi ini menjadi bukti bahwa talenta muda Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional. Temuan Riski tidak hanya menyelamatkan NASA dari ancaman besar, tetapi juga menunjukkan pentingnya keamanan siber yang semakin krusial di era digital. (ton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *