Computer Anxiety Menjadi Alasan Gagalnya Peserta Didik dalam Mengoperasikan Software Akuntansi dengan Baik

Haijatim.com, Surabaya – Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini melaju sangat pesat menuju ke arah serba digital, serba otomatis hingga serba kecerdasan buatan. Perubahan drastis ini menyebabkan terjadinya perubahan pula dalam penentuan standar sumber daya manusia di seluruh bidang usaha. Kemajuan ini sangat berdampak pada cara kerja yang dahulu dapat dilakukan oleh beberapa sumber daya manusia namun dengan perkembangan teknologi ini hanya cukup dilakukan oleh seorang saja. Hal ini menunjukkan adanya tantangan yang nyata bagi seluruh masyarakat luas baik bagi pencari dunia kerja maupun yang telah menetap dalam perusahaan. Situasi ini pula menuntut agar sumber daya manusia mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan IT sehingga mampu bertahan dan bahkan bersaing dalam dunia kerja.

Dukungan dari lembaga pendidikan di Indonesia memiliki peran yang besar dalam upaya melahirkan generasi-generasi yang mampu bersaing di dunia yang serba digital ini. Salah satunya dengan memberi fasilitas-fasilitas yang memadai pada proses pembelajaran selama belajar pada jenjang pendidikan manapun. Tujuan dari pelaksanaan tersebut yaitu agar mereka setelah selesai menempuh pendidikan tidak hanya mendapatkan pemahaman secara teori yang telah tersusun secara sistematik namun mereka juga dikenalkan sehingga mengenal dengan teknologi-teknologi yang digunakan dalam dunia kerja hingga dapat mengoperasikannya dengan baik.

Salah satu contoh perkembangan teknologi dapat dilihat pada bidang akuntansi yaitu terkait dengan pembukuan akuntansi yang berawal dari sistem pembukuan berpasangan yang diperkenalkan oleh Luca Pacioli. Namun saat ini sistem tersebut telah terprogram dengan sangat rapi, efisien dan lebih efektif yang diwujudkan dalam bentuk software akuntansi. Masing-masing sumber daya manusia dapat mengakses sesuai dengan job description yang telah ditentukan pada awal. Tersedia software yang sederhana hingga kompleks untuk mengatasi atau memberi solusi sesuai dengan tingkat kerumitan jenis usaha yang dijalankan dan lebih menghasilkan informasi yang akurat. Artinya bahwa saat ini, sumber daya manusia dapat digantikan dengan mesin. Jadi bagaimana agar sumber daya manusia tersebut tetap dapat bertahan di dunia kerja?

Saat ini lembaga pendidikan telah mengembangkan kurikulum yang melibatkan penggunaan teknologi yaitu akuntansi berbasis komputer. Kurikulum ini merupakan bentuk praktik peserta didik dalam mempraktikan teori-teori yang telah dipelajari sebelumnya. Dari praktik tersebut mereka akan dapat mengetahui kelebihan dari penggunaan akuntansi berbasis komputer, diantaranya adalah adanya efisienssi waktu dalam pengerjaan, meghasilkan luaran yang lebih akurat, efisiensi sumber daya manusia, dan kemudahan dalam mendapatkan informasi-informasi yang berkaitan dengan keuangan. Untuk dapat mengoperasikan akuntansi berbasis komputer dengan baik sehingga menghasilkan output yang akurat, mereka tidak hanya bermodal kemampuan dasar akuntansi saja namun terdapat faktor lain dapat mempengaruhi agar benar-benar menjadi luaran yang memberikan manfaat bagi penggunanya. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi output tersebut adalah computer anxiety.

Computer anxiety atau biasa dikenal dengan kecemasan berkomputer adalah suatu bentuk kecemasan yang dialami oleh pengguna. Atau dapat dikatakan pula pengguna merasakan ketakutan atas tindakannya dalam mengoperasikan komputer atas output yang akan dihasilkan. Artinya seorang peserta didik saat menginput data keuangan melalui akuntansi berbasis komputer muncul rasa takut jika apa yang ia lakukan akan menghasilkan sebuah informasi yang salah atau tidak tepat dimana hal itu akan berdampak pada hasil akhir sehingga berdampak pula pada hasil akhir proses pembelajarannya. Peserta didik yang seperti ini menunjukkan bahwa ia memiliki kecemasan berkomputer cukup tinggi.

Jika hal ini dibiarkan akan memberikan dampak negatif bagi mereka sehingga tidak akan dapat mengembangkan potensi diri secara maksimal. Terdapat beberapa alasan mengapa hal itu terjadi, yaitu kurangnya kepercayaan diri pada kemampuannya sendiri untuk mengoperasikan akuntansi berbasis komputer. Kedua, karena pertama kali dalam menggunakan akuntansi berbasis komputer atau minimnya pengalaman dalam berinteraksi dengan software akuntansi. Ketiga, karena mereka kurang memiliki kemampuan dasar akuntansi sehingga menyebabkan munculnya perasaan takut dalam menginput data yang berasumsi bahwa akan merusak laporan keuangan secara keseluruhan. Keempat, kompleksitas software akuntansi yang digunakan dalam praktik yang terlalu rumit untuk dipahami dengan cepat sedangkan proses pembelajaran memiliki keterbatasan waktu.

Kecemasan yang mereka alami selama proses pembelajaran berlangsung akan mendorong mereka menjadi tidak berminat dalam pengerjaan tugas. Ketika minat itu turun, maka sangat berdampak pada pengambilan keputusan yang mereka tentukan. Mereka akan mengerjakan semampunya tanpa usaha sehingga akan mengabaikan hasil akhir dari proses pembelajaran dan tidak akan peduli apakah lulus atau tidak. Kemudian keputusan yang sangat buruk dilakukan adalah saat kecemasan itu tumbuh tanpa kendali, mereka dapat melakukan hal yang menyalahi prosedur yaitu mengabaikan kejujuran namun menginginkan hasil yang baik di akhir proses pembelajaran.

Cara mengatasi kecemasan yang dialami peserta didik yaitu dengan melakukan pendampingan selama proses pembelajaran dan membimbing secara tepat untuk melakukan langkah-langkah yang harus dilakukan berikutnya sesuai dengan modul yang tersedia kemudian melatihnya agar memproses input data secara mandiri. Pendidik juga dapat memotivasi mereka agar tumbuh rasa percaya diri yang tinggi sehingga mampu mencoba untuk melaksanakan proses input tanpa rasa takut yang berlebihan. Peran peserta didik untuk mengatasi kecemasannya yaitu mereka dapat melakukan latihan secara mandiri di luar jam kelas sehingga lebih terbiasa dalam mengoperasikannya. Tidak hanya itu, mereka dapat mengubah pola pikir dengan menumbuhkan sikap positif terhadap software akuntansi yang dioperasikan.

Mereka juga perlu memiliki kontrol diri yang baik, berkeyakinan bahwa mereka dapat menguasai teknologi dimana kendali itu berasal dari dirinya. Saat mulai mahir atau telah terbiasa maka tingkat kecemasan itu akan menurun dan tidak memiliki keraguan akan hasil yang akan diperolehnya. Keberhasilan peserta didik untuk mengurangi atau bahkan hingga menghilangkan kecemasan berkomputer dapat dicapai karena adanya kerjasama dari berbagai pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran tersebut.

Daftar Pustaka:

Putra, Aprilian K. 2016. Pengaruh Computer Anxiety, Computer Attitude dan Computer Self Efficacy Terhadap Minat Mahasiswa Akuntansi Menggunakan Software Akuntansi (Studi Kasus Pada Mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakara Angkatan 2012-2014). Skripsi: Universitas Negeri Yogyakarta.

Saade dan Kira. 2009. Computer Anxiety in E-Learning: The Effect of Computer Self Efficacy. Journal of Information Technology Education Volume 8:177-191.

Sastrawan, Uding, dkk. 2012. Perbandingan Penerapan Sistem Akuntansi Konvensional Dengan Sistem Akuntansi Berbasis Komputer Pada Perusahaan Dagang. Jurnal Sains Terapan Edisi II Vol. 2(1): 114-130.

Wicaksono, A., dkk. 2024. Pengaruh Computer Anxiety dan Computer Self Efficacy Terhadap Minat Mahasiswa Akuntansi Univeristas Nahdlatul Ulama Sidoarjo Menggunakan Software Akuntansi. Measurement: Jurnal Akuntansi Vol. 18, No. 2: 360 – 370, Desember.

Penulis:

Emi Kusmaeni, S.E., M.Ak. adalah

Dosen tetap STIESIA Surabaya pada Program Studi D3 – Akuntansi sejak tahun 2010.

Selain mengajar beliau juga aktif dalam kegiatan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *