Haijatim.com, Jakarta – Krisis gaji pemain terjadi di Liga Indonesia. Hal ini tentu mengancam eksodus talenta asing. Contoh nyatanya adalah Eduardo Barbosa yang tak digaji.
Ya, citra sepak bola Indonesia kembali berada di titik nadir. Masalah klasik tunggakan hak pemain kini mengancam daya tarik liga di mata internasional. Jika tidak segera dibenahi, talenta asing akan enggan mengadu nasib di tanah air.
Eduardo Barbosa Tak Digaji: Simbol Kerapuhan Manajemen
Kasus terbaru menimpa gelandang PSBS Biak asal Portugal, Eduardo Barbosa. Pemain berusia 23 tahun ini memilih pulang kampung lebih awal. Kepergiannya menjadi viral karena ia hanya membawa kantong kresek merah saat berpamitan.
Kabar yang beredar menyebutkan bahwa Eduardo Barbosa tak digaji selama tiga bulan. Kondisi miris ini terjadi di tengah perjuangan tim di BRI Super League. Pengorbanan pemain asing yang jauh dari keluarga seolah tidak dihargai oleh manajemen.
Dampak Degradasi dan Tunggakan Hak
PSBS Biak dipastikan terdegradasi ke kasta kedua setelah kekalahan telak dari Persebaya. Masalah finansial diduga menjadi faktor utama merosotnya performa tim musim ini. Selain Barbosa, staf klub dikabarkan mengalami nasib serupa terkait tunggakan gaji.
Seorang sumber internal menyebut situasi di mess sangat memprihatinkan sebelum Barbosa pergi. “Pemain butuh kepastian untuk menghidupi keluarga mereka,” ungkap sumber tersebut singkat.
Eduardo Barbosa tak digaji menjadi bukti nyata ketidakprofesionalan yang masih mendarah daging. Sangat miris di media sosial dia hanya pergi dengan membawa sekantong tas kresek merah.
Ancaman Blacklist bagi Liga Indonesia
Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) dilaporkan telah menerima aduan resmi terkait kasus ini. Jika terus berulang, agensi pemain asing akan memberikan peringatan merah bagi Indonesia. Hal ini tentu sangat merugikan kualitas kompetisi domestik kita.
Kini, publik menanti langkah tegas PSSI untuk menyelesaikan sengketa hak ini. Tanpa regulasi finansial yang ketat, talenta berbakat hanya akan melihat Indonesia sebagai destinasi berisiko. Sepak bola kita butuh transparansi, bukan sekadar janji manis di atas kontrak. (boi)













