Haijatim.com, Surabaya – Tim Pengabdian kepada Masyarakat STIESIA Surabaya menggelar kegiatan Pelatihan Pembukuan Sederhana untuk UMKM pada 29 November 2025 di Toko Usaha Jaya, Kutisari. Kegiatan berlangsung mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai.
Pelatihan ini bertujuan membantu pelaku UMKM menerapkan pembukuan sederhana. Sistem ini bermanfaat untuk mengendalikan keuangan dan mengetahui penerimaan harian. Pemilik juga dapat memantau keuntungan setiap periode secara jelas.
Ketua tim, Emi Kusmaeni, menjelaskan pentingnya pembukuan bagi UMKM. “Pembukuan sederhana membantu pelaku usaha menyusun informasi keuangan secara rapi,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa pencatatan yang baik mendukung keputusan bisnis yang lebih tepat.
Survei Awal dan Pelaksanaan Pelatihan
Kegiatan diawali dengan survei pendahuluan untuk mengetahui kondisi mitra. Survei menemukan bahwa Toko Usaha Jaya belum memiliki pembukuan. Atas dasar itu, tim memutuskan memberi pelatihan terkait pembukuan sederhana.
Pelatihan berlangsung di lokasi usaha dan dihadiri pemilik toko, Lina Pujiastuti. Usaha itu berdiri sejak 2005 dan menjual alat tulis kantor yang cukup lengkap. Usaha dikelola langsung oleh pemilik.
Tim PkM terdiri dari dosen dan mahasiswa STIESIA Surabaya. Daftarnya sebagai berikut:
1. Emi Kusmaeni, SE., M.Ak.
2. Annisa Rozaan Bazighis (Mahasiswa Akuntansi D3)
3. Muhammad Reynaldi Okta Reva (Mahasiswa Akuntansi D3)
Emi menambahkan, “Kami memilih metode praktis agar mitra dapat langsung memahami langkah pencatatan.”

Penyampaian Materi dan Praktik Langsung
Materi pelatihan mencakup dua bagian. Pertama, penjelasan tentang manfaat pembukuan sederhana. Kedua, pelatihan teknis penggunaan buku kas masuk dan kas keluar.
Tim juga melakukan sesi praktik langsung bersama pemilik usaha. Mereka memonitor dan mengevaluasi pencatatan untuk menilai keberhasilan pelatihan.
Menurut Lina, pelatihan ini memberikan pemahaman baru. “Saya jadi tahu cara mencatat pemasukan dan pengeluaran dengan benar,” ujar Lina.
Solusi Mengatasi Kendala Pencatatan
Survei menemukan satu kelemahan utama, yaitu toko belum menggunakan mesin kasir. Hal ini menyulitkan pencatatan saat penjualan tinggi, terutama menjelang tahun ajaran baru.
Emi menilai kondisi itu dapat mengganggu layanan. “Pencatatan manual saat ramai dapat memperlambat pelayanan,” katanya.
Sebagai solusi, tim menawarkan sistem laci. Sistem ini menggunakan kotak berisi kas awal, misalnya Rp500.000 dalam pecahan kecil. Sistem ini memudahkan pengembalian uang tanpa harus mencatat setiap transaksi.
Di akhir hari, pemilik cukup menghitung selisih antara saldo awal dan saldo akhir. Selisih tersebut menjadi data penerimaan harian yang dapat dicatat dalam pembukuan.
Harapan dan Dampak Kegiatan
Tim berharap pemilik konsisten menjalankan pembukuan sederhana setiap hari. Dengan pencatatan rutin, pemilik dapat mengetahui pendapatan dan pengeluaran secara informatif.
Emi menyimpulkan, “Pembukuan yang rapi membantu UMKM melihat keuntungan dengan jelas dan mengambil keputusan tepat.”
Kegiatan PkM ini diharapkan memberi dampak positif bagi perkembangan Toko Usaha Jaya dan peningkatan kualitas pengelolaan keuangan usaha. (*)













