Haijatim.com, Surabaya – Bagaimana jika hasil panen raya sawi dan kangkung cukup mengandalkan asupan sinar panel surya? Ternyata inovasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui Smart Agrivoltaic mampu menghasilkan sayur yang segar dan sehat.
Di tengah tantangan krisis lahan dan perubahan iklim, ITS membawa angin segar bagi dunia pertanian nasional. Melalui proyek Smart Agrivoltaic, ITS membuktikan bahwa menghasilkan sayuran sehat kini bisa dilakukan beriringan dengan produksi energi bersih.
Pada Jumat (23/01), suasana cerah menyelimuti kebun Project Renewable Energy Integration Demonstrator of Indonesia (REIDI) ITS saat Rektor ITS, Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati, ST., MSc., Eng., PhD., memimpin langsung kegiatan panen raya. Sawi dan kangkung segar yang tumbuh subur di bawah naungan panel surya menjadi bukti nyata keberhasilan riset yang membumi.

Inovasi Agrivoltaic: Satu Lahan, Dua Keuntungan
Konsep agrivoltaic merupakan sistem pertanian cerdas yang memanfaatkan lahan secara ganda: bagian atas untuk instalasi panel surya (energi) dan bagian bawah untuk budidaya tanaman (pangan).
Bagi para petani dan pemerhati sayuran, sistem ini menawarkan solusi revolusioner. Panel surya tidak hanya berfungsi menghasilkan listrik, tetapi juga menciptakan mikroklimat yang melindungi tanaman dari paparan sinar matahari berlebih, sehingga sayuran tetap tumbuh optimal dan segar.
“Meskipun menghadapi banyak tantangan, ITS tetap berkomitmen mengembangkan REIDI agar terus memberikan manfaat dari segi keilmuan, energi, maupun pangan,” ujar Prof. Bambang Pramujati dengan optimis.
Kontribusi Nyata untuk Ekonomi dan Lingkungan
Fasilitas REIDI bukan sekadar laboratorium riset, melainkan living laboratory pertama di Indonesia yang merupakan hasil kolaborasi internasional antara ITS dengan Nanyang Technological University (NTU) Singapura.
Berdasarkan data dari Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat ITS, Fadlilatul Taufany, ST., PhD., dampak ekonomi dan lingkungan dari fasilitas ini sangat signifikan:
– Produksi Energi: Menghasilkan listrik sebesar 1,2 MWh per hari.
– Efisiensi Biaya: Menghemat anggaran listrik hingga Rp470 juta per tahun.
– Dampak Lingkungan (ESG): Menyerap emisi CO2 sebesar 370 ton per tahun.
– Target SDGs: Mendukung poin tanpa kelaparan (SDG 2), energi bersih (SDG 7), dan penanganan perubahan iklim (SDG 13).
Masa Depan Pertanian Berkelanjutan
Keberhasilan panen sawi dan kangkung ini menjadi pionir bagi pengembangan pertanian perkotaan (urban farming) di Indonesia. Ke depannya, ITS berencana mengembangkan fasilitas REIDI lebih jauh dengan mengintegrasikan pembangkit energi biomassa dan hidrogen.
Bagi masyarakat luas, kehadiran Kebun Smart Agrivoltaic ini memberikan harapan bahwa ketahanan pangan dan kemandirian energi bisa dicapai dari satu titik lahan yang sama. Sayuran yang dihasilkan bukan hanya sehat dikonsumsi, tetapi juga diproduksi melalui proses yang ramah lingkungan. (boi)












