Tim JKaLgOLithm dari Indonesia sebagai Juara Ketiga di ASEAN Data Science Explorers Regional Finals 2023 dengan program SlumDunk 'Meningkatkan Kelayakan Huni Permukiman Kumuh melalui Pemantauan dan Kesukarelawanan yang Kuat'

Manfaatkan Satelit dan IoT, Anak Muda Indonesia ini Rancang Solusi Meningkatkan Kelayakan Huni Daerah Kumuh di ASEAN

SlumDunk sejalan dengan semangat ASEAN Data Science Explorers 2023 mengajak generasi muda ASEAN untuk mengoptimalkan peran mereka dalam mengatasi permasalahan sosial-ekonomi yang dihadapi masyarakat di kawasan ini.

Haijatim.com, Jakarta – Kepedulian Kay Eugenia Purnama dan Jessen Wiryawan patut diacungi jempol. Anak muda Indonesia ini merancang dan memberikan solusi bagaimana meningkatkan kelayakan huni daerah kumuh di ASEAN.

Harus diakui daerah atau permukiman kumuh masih menjadi persoalan besar di kawasan ASEAN. Sebuah laporan dari ASEAN Sustainable Urbanisation menyatakan bahwa antara 22 hingga 55 persen penduduk perkotaan di ASEAN saat ini tinggal di permukiman kumuh. Daerah kumuh terbentuk karena ketidaksetaraan pendapatan, pertumbuhan ekonomi yang rendah, migrasi penduduk, sehingga menjebak penduduk dalam kemiskinan dan kurangnya akses ke perumahan yang terjangkau.

Persoalan inilah yang dipotret oleh Kay Eugenia Purnama dan Jessen Wiryawan yang tergabung dalam tim JKaLgOLithm saat mengikuti program ASEAN Data Science Explorers 2023 (ASEAN DSE), program unggulan dari ASEAN Foundation bekerja sama dengan SAP. Keduanya berhasil keluar sebagai juara ketiga dengan usulan “SlumDunk”. Usulan ini dirancang untuk memonitor permukiman kumuh dan menggerakkan relawan untuk meningkatkan kelayakan hidup dan memberdayakan masyarakat di sana.

Kay Eugenia Purnama dan Jessen Wiryawan mengatakan negara-negara ASEAN rata-rata memiliki kesulitan yang sama dalam mengatasi masalah permukiman kumuh, yaitu kurangnya sumber daya keuangan dan tenaga kerja untuk meningkatkan infrastruktur kumuh, serta meningkatkan keterampilan individu yang tinggal di daerah-daerah tersebut. Selain itu, laporan mengenai permukiman kumuh yang tidak lengkap karena keterbatasan informasi juga menimbulkan kesulitan bagi pemerintah dalam melaksanakan intervensi dan inisiatif komprehensif. “Pada saat yang sama, masyarakat luas cenderung kurang memiliki kesadaran tentang pentingnya mendukung komunitas ini dan membangun masyarakat yang inklusif,” kata Kay Eugenia Purnama dan Jessen Wiryawan.

Baca juga: Polusi Jakarta Meresahkan, KTT ASEAN ke-43 Pakai Mobil Ramah Lingkungan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *