Haijatim.com, Namibia – Kapal berisi harta karun yang hilang 500 tahun lalu ditemukan di Gurun Namib, Namibia. Terdapat beragam emas dan mengungkap jejak perdagangan global.
Demikian penemuan kapal Portugis abad ke-16 di Gurun Namib, Namibia, kembali mengejutkan dunia arkeologi. Kapal Bom Jesus yang hilang pada 1533 ditemukan para penambang berlian di kawasan Sperrgebiet, wilayah terpencil dengan pengamanan tinggi.
Kapal ini berada jauh dari pantai, namun kargonya tetap utuh berkat kondisi gurun yang sangat kering. Temuan ini membuka kembali sejarah perdagangan global pada era Penjelajahan.
Tetap Awet Berabad-Abad
Bom Jesus membawa lebih dari 2.000 koin emas, 22 ton tembaga batangan, dan puluhan gading Afrika Barat. Kondisi hiper-kering Gurun Namib menjaga kayu kapal, logam, dan kain tetap awet meski terkubur berabad-abad.
“Ini bukan sekadar situs arkeologi, ini adalah kapsul waktu ekonomi dari Zaman Penjelajahan,” ujar Dr. Bruno Werz, Direktur AIMURE.
Penelitian mengungkap peran keluarga bankir Fugger melalui cap pada batangan tembaga. Temuan koin emas excelentes dari Spanyol menandai keterlibatan modal Iberia dalam ekspedisi Portugal tahun 1533.
Ratusan Meter dari Garis Pantai
Kapal ini ditemukan ratusan meter dari garis pantai Atlantik, bukan di dasar laut seperti bangkai kapal lain. Pergerakan pasir gurun selama berabad-abad membuat bangkai kapal tersimpan aman dari air asin.
Kondisi tersebut menjadikan gurun sebagai ruang penyimpanan alami bagi artefak bersejarah.
Milik Sah Namibia
Tidak ada sengketa internasional terkait temuan Bom Jesus. Berdasarkan Konvensi UNESCO 2001 tentang Warisan Budaya Bawah Air, kapal tersebut menjadi milik sah Namibia.
“Inilah contoh terbaik bagaimana kerja sama internasional seharusnya berjalan. Tidak ada keraguan bahwa kapal ini milik Namibia,” kata sejarawan Alexandre Monteiro kepada National Geographic.
Menariknya Portugal bahkan memilih tidak mengajukan klaim atas kapal tersebut. Negara asal Christiano Ronaldo tersebut fair mengikuti aturan internasional.
Jejak Para Penyintas
Diperkirakan lebih dari jejak para penyintas sebanyak 300 orang berada di atas kapal saat hilang. Terdiri dari pelaut, rohaniwan, dan tentara. Namun hanya satu fragmen tulang berupa jari kaki yang ditemukan di dalam sepatu.
“Gurun ini tampak sunyi, tetapi pada 1533 bisa saja menyediakan air, makanan, bahkan kontak dengan komunitas San bagi para penyintas,” ujar Dr. Dieter Noli, arkeolog utama yang memimpin ekskavasi, yang menambahkan misteri mengenai nasib para penyintas tetap menjadi teka-teki besar. (ton)













